Melahirkan Generasi Pelanjut Hijrah

Sahabat,

Eropa sedang menunjukkan kepada kita sebuah pergerakan yang luar biasa. Jika dibuat rata-rata, di Perancis saja setiap minggu ada 12 orang yang bersyahadat. Begitu juga di Amerika, Islam menjadi agama kedua terbesar di negara itu. Fenomena ini ditafsirkan oleh Syekh Yusuf al Qaradhawi sebagai, jika dulu Konstantinopel itu dibebaskan dengan menggunakan pedang, maka Vatikan akan dibebaskan, murni tanpa pedang sama sekali.

Basis peradaban Barat sudah sangat rapuh. Konsep-konsep kapitalisme kian hari kian dekat dengan nilai-nilai Islam. Di dalam al-Qur’an banyak fakta-fakta yang telah dibuka oleh Allah. Rangkaian fakta yang dimiliki Allah, sangatlah besar dan tak terbatas. Sebagian kecilnya, dibuka secara mencicil kepada manusia. Sebagian lagi hanya isyarat-isyarat saja. Tapi kenapa banyak manusia yang tidak beriman?

Karena banyak manusia yang melampaui batas. Setelah diajar dan mengetahui berbagai fenomena, manusia merasa bahwa semua itu dia dapatkan dengan caranya sendiri. Kemudian mulai sombong, lalu merasa tidak perlu.

Sahabat,

Ketika Qarun memiliki kekayaannya, lalu dia mulai berkata, “Saya mendapatkan kekayaan ini karena saya memiliki ilmu untuk mendapatkannya.”

Dia lupa bahwa ilmu itu diberikan Allah dan begitu pula harta yang dimilikinya. Merasa pintar membuat manusia memiliki perasaan istaghna, tidak memerlukan Tuhan. Ini yang kita dapati pada orang-orang Ateis.

Jika kita telusuri, pertanyaan penting kaum Ateis sesungguhnya hanya satu. Apa pentingnya keberadaan Tuhan? Jika manusia boleh mengatur hidup dengan otaknya sendiri. Apa perlunya agama? Manusia mampu mengatur hidupnya sendiri dengan menciptakan nilai-nilai. Mengapa perlu ada pendeta? Manusia boleh mengatur semuanya tanpa mereka. Apalagi mereka mendapatkan fakta bahwa negara-negara yang tidak diatur oleh agama, jauh lebih makmur dibanding negara-negara yang diatur berdasarkan aturan agama. Mereka mulai merasa tidak perlu pada Tuhan.

Sebagian besar yang menghambat manusia menerima Islam adalah keangkuhan di dalam hatinya. Selain itu, kepentingannya pada hal-hal yang bersifat dunia. Ketika keangkuhan bertemu dengan kepentingan, maka semakin lengkaplah alasan untuk menjauhi Islam.

Jika Allah berkehendak, sungguh tidak ada manusia yang susah mendapatkan petunjuk. Jika Allah mau, semua manusia diberi petunjuk. Tapi yang diberikan Allah pada kita adalah, Allah memberikan kita pilihan pada permulaan, tapi tidak memberikan pilihan pada akhiran. Di dunia manusia boleh memilih agama apa pun yang disuka. Tapi kelak jika kematian datang, dan setelah kematian ada kebangkitan, kemudian setelah kebangkitan akan ada surga dan neraka. Dan ketika itu hanya Allah yang berhak menentukan.

Sahabat,

Karena itu, banyaknya hukum dalam agama Islam tidak boleh kita pahami tanpa keyakinan dan iman. Dan salah satu iman yang besar adalah, beriman pada hari akhir. Tidak ada yang mampu memotivasi seperti kuatnya motivasi surga dan neraka. Jika tidak ada surga dan neraka, apa pentingnya kita berusaha menjadi orang baik?

Hanya karena kita beriman kepada neraka, kita tidak ingin menjadi orang jahat. Dalam al-Qur’an, setelah kata surga dan neraka yang paling banyak disentuh adalah ketakutan dan harapan.

Dalam masyarakat sekuler, orang yang paling sehat akalnya adalah orang yang paling banyak melakukan maksiat. Karena mereka tidak memiliki keimanan pada hal-hal seperti surga dan neraka, atau baik dan buruk. Salah satu ukuran kemakmuran di dunia modern sekarang ini adalah, usia harapan hidup. Makin panjang usia harapan hidup, maka makin tinggi indikator kemakmurannya. Yang boleh membuat manusia sujud adalah keimanannya. Tapi sering kali manusia tidak sujud dikarenakan nafsu dan akalnya. Mereka selalu melakukan hitung-hitungan di depan Allah.

Hambatan paling besar manusia untuk menyembah Tuhan adalah merasa pintar. Karenanya tidak merasa perlu dengan Tuhan. Sedangkan yang kedua adalah kepentingan, jika dia masuk Islam. Keangkuhan dan kepentingan, adalah dua hal yang sering kali menggelincirkan manusia dari jalan yang benar.

Tapi ada pertanyaan yang sering kali menganggu. Kalau umat Islam memiliki nilai-nilai yang begitu luhur dan tinggi, mengapa kualitas hidup mereka sering kali malah rendah. Negaranya miskin. Ekonominya lemah dan sebagainya.

Sahabat,

Eropa 1000 tahun yang lalu seperti apa mereka? Hidup dalam zaman kegelapan. Dibandingkan dengan bangsa Arab. Sebaliknya, 500 tahun yang lalu, Turki adalah penguasa Eropa dengan peradabannya yang tinggi. Siapa yang mengenal Jepang 1000 tahun yang lalu? Tidak ada. Abad 18 dan abad 19 adalah era kekuasaanya Perancis. Sedangkan abad 20 adalah eranya Amerika.

Coba bandingkan lagi fenomena Eropa Barat dan Eropa Timur. Daratan yang mereka huni, sama. Otak di dalam kepala penduduknya, sama. Tapi mengapa nasibnya berbeda? Indonesia, Malaysia, Thailand Selatan, Mindanao dan Singapura. Sama-sama sebagian besar rumpun Melayu. Hidup di daerah regional yang sama. Tapi lagi-lagi, nasibnya kenapa berbeda?

Kaidah-kaidah yang berlaku pada kehidupan manusia, disebut sunnatullah. Dan sunnatullah ini berlaku baik untuk Muslim, maupun untuk non-Muslim. Berlaku umum.

Sahabat,

Pemerintah yang adil meski kafir akan bertahan lebih lama dibanding pemerintah yang zalim, meski Muslim. Makin adil sebuah rezim, maka makin panjang umurnya. Makin zalim sebuah rezim, makin pendek umurnya.

Mengapa komunisme lebih cepat runtuh dibanding kapitalisme? Karena kapitalisme belajar lebih baik di banding komunisme. Kapitalisme menyelesaikan masalah lebih baik di banding komunisme. Mekanisme pemelajaran yang menentukan umur kehidupan ideologi ini.

Keadilan boleh diwujudkan dengan atau tanpa agama. Itulah beda mereka dengan kita. Kita menegakkan keadilan karena motivasi agung menuju cinta dan ridha Allah SWT. Sedangkan mereka, menegakkan keadilan hanya sekadar menegakkan, bahkan di beberapa kasus, mereka menegakkan keadilan demi mendapatkan dunia yang mereka impi-impikan. Dan inilah kelemahan mereka. Sampai kapan mereka mampu menutupi ketamakan mereka dengan regulasi-regulasi yang sesungguhnya mereka ciptakan untuk keuntungan mereka sendiri? Mereka tidak boleh bertahan lama dengan cara seperti itu.

Sahabat,

Malik Bennabi, seorang sejarawan Aljazair mengatakan tentang kaidah tumbuhnya suatu peradaban. Pada suatu masa paling bagus dari sebuah peradaban, kita boleh melihat generasinya didominasi nilai-nilai spiritual. Lalu ketika mereka jaya, nilai-nilai yang dominan adalah nilai rasional. Kelak, jika sebuah peradaban menuju keruntuhannya, maka ketika itu yang dominan adalah nilai-nilai nafsu, syahwat, dan materi, mendominasi generasinya.

Ketika menanjak, nilai yang dominan adalah spiritual. Ketika datar, nilai yang dominan adalah rasional. Dan ketika sedang turun, nilai yang dominan adalah nilai material.

Sepanjang orang tidak percaya pada hari akhirat, maka ia tidak akan bertahan lama menjadi orang baik. Kita tidak boleh bertahan menjadi baik terus-menerus kecuali karena percaya, kita akan mendapat kompensasi lain atas seluruh perbuatan baik yang kita lakukan. Itulah bedanya kita dengan mereka.

Ketika Peradaban Islam Runtuh

Sahabat,

Ketika berada di atas kekuasaan, Islam berperan sebagai pendorong putaran peradaban.Tapi ketika, roda berputar, saat Islam tak lagi menang, hanya kehancuran yang didapatkan.

Tahun 1492, Granada jatuh ke tangan penguasa baru, kolaborasi Katholik dan Protestan. Pusat ilmu pengetahuan Islam di Eropa itu pun menjadi sasaran pemusnahan. Seorang Kardinal memerintahkan pasukannya Spanyol mengumpulkan seluruh buku-buku tentang Islam dan semua yang berbau Arab untuk dibakar. Tidak saja yang terdapat dalam perpustakaan resmi milik pemerintahan, tapi juga milik pribadi yang tersebar di rumah-rumah.

Jumlahnya diperkirakan lebih dari satu juta. Dikumpulkan di tengah lapangan kota Granada dan dimusnahkan dengan cara dibakar dengan diiringi upacara agama. Memusnahkan ilmu pengetahuan Islam, seperti menjadi bagian dari amal ibadah.

Semenanjung Iberia atau Spanyol adalah wilayah yang sangat indah, subur dan kaya. Daerah ini bersabuk sungai dan kanal-kanal penting yang menjadi urat nadi kehidupannya. Bangsa Arab menyebut wilayah ini dengan sebutan al Andalus. Kaum Muslimin masuk ke wilayah ini pada tahun 711 Masehi atau 92 Hijriyah, dipimpin seorang pahlawan muda, Tariq bin Ziyad. Kaum Yahudi telah lebih lama datang dan menjadi penduduk wilayah ini. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pedagang atau petani, beberapa ada pula keluarga Yahudi miskin yang harus menjadi buruh pertanian menggarap tanah milik majikan-majikan Kristen mereka.

Salah satu transaksi perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi ini adalah, memperjual-belikan kasim, para pembantu untuk keluarga-keluarga bangsawan. Kasim berbeda dengan budak. Sebagian besar adalah anak-anak. Kaum Yahudi di Iberia mempunyai pusat pengelolaan kasim, mereka memiliki pusat pengebirian para kasim ini. Tak jarang anak-anak yang mereka kebiri tewas mengenaskan akibat sakit yang mereka derita.

Tariq bin Ziyad masuk ke wilayah ini dengan membawa tentara sebesar 7.000 pasukan. Ketika mendarat di negeri Andalusia, Tariq bin Ziyad memerintahkan pasukannya untuk membakar dan memusnahkan kapal mereka. Tariq bertekad tak akan kembali ke negeri asal. Baginya tidak ada pilihan, kecuali menang.

Bulan Rajab tahun 92 H atau 30 April 711 M, pasukan Muslimin berangkat dari Ceuta. Mereka mendarat di gunung batu bernama, Mount Calpe. Tempat ini kelak lebih dikenal dengan sebutan Jabal al-Fatah atau Jabal Tariq yang biasa disebut oleh orang-orang Barat sebagai Gibraltar. Saat berada di atas kapal menuju Gibraltar, Tariq bermimpi melihat Rasulullah Saw beserta para Sahabat Muhajirin dan Anshar. Mereka semua memegang pedang dan menyandang busur panah. Ia mendengar Nabi Saw berkata kepadanya, ”Kuatkan dirimu wahai Tariq! Tuntaskan apa yang menjadi misimu sekarang.” Kemudian ia melihat Rasulullah saw dan para sahabatnya pergi memasuki Andalusia.

Kelak peradaban Islam yang diretas oleh Tariq bin Ziyad ini melahirkan orang-orang seperti Ibnu Rushd atau yang dikenal Barat dengan nama Averoes (1126-1198). Filsuf yang sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran dunia Barat. Juga lahir tokoh seperti Az Zahrawi yang lahir di Cordoba dan ia sangat dikenal sebagai manusia pertama yang memperkenalkan teknik operasi bedah. Ensiklopedi tentang teknik pembedahan menjadi rujukan dunia kedokteran di Barat. Ada pula Az Zarkalli, astronom Muslim yang memperkenalkan pengetahuan astrolobe, sebuah instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horizon bumi yang dijadikan navigasi dalam transportasi laut.

Satu dari tokoh yang cukup ternama dalam periode ilmiah ini adalah Hunain Ibnu Ishaq, yang mengumpulkan dan menyalin buku-buku tentang filsafat, hisab dan ilmu alam. Segala macam ilmu dari bermacam bahasa, Persia, India dan Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab setelah melalui proses internalisasi. Lalu ada pula Faraj ibnu Salim, Barat lebih mengenalnya dengan nama Ferragut van Girgenti. Seorang ulama yang mampu melakukan alih bahasa dari Latin menjadi kitab-kitab berbahasa Arab.

Bahkan, usaha mengabadikan ilmu pengetahuan telah jauh sebelumnya di lakukan. Di zaman para khalifah, salah satunya Khalifah al Ma’mun dari Dinasti Abasiyah membangun Bayt al Hikmah. Sebuah perpustakaan yang luar biasa besar berisi tentang segala macam ilmu pengetahuan. Dari Barat dan Timur, dengan tema tentang jiwa manusia sampai teknologi tepat guna. Khalifah sebelumnya, Harun al Rasyid telah merintis membangun peradaban ilmiah dengan fasilitas penuh dari kerajaannya. Pada masanya, ia telah memiliki dokter dengan jumlah 800 orang yang menguasai berbagai bidang.

Andai saja tak ada ulama-ulama Muslim yang menerjemahkan karya-karya dari peradaban Yunani, akan tenggelam dan tak dikenal oleh manusia modern. Plato, Aristoteles atau berbagai nama yang lainnya, mungkin hanya tinggal nama.

Tapi ketika Islam yang berada di bawah, usaha penghancuran seperti tak ada ampunnya. Peradaban Kristen mengirim para orientalis mereka untuk menyalin karya-karya ulama Andalusia, dengan motivasi yang negatif. Di bawah ini adalah beberapa nama dari mereka:

Gerbert de Oraliac (938-1003)

Gerbert de Oraliac tercatat sebagai satu-satunya Paus dari Perancis yang mempelajari bahasa Arab dan menekuni ilmu-ilmu tentang budaya Arab. Ia diangkat menjadi Paus Perancis ke-146. Ia memulai karirnya sebagai pendeta di di Biara Saint Gerault di Oraliac. Kemudian ia mendapat tugas untuk pergi ke Spanyol untuk mendalami ilmu-ilmu Islam dari kaum Muslimin yang saat itu masih bejaya di Spanyol. Ia mempelajari hampir seluruh subyek ilmu pengetahuan dalam Islam yang sangat dominan, termasuk ilmu mekanika, geometri dan juga astronomi. Kelak, ilmu-ilmu yang ia pelajari ia terapkan saat kembali ke Paris. Ia memasukkan angka-angka Arab ke adalam arloji yang memiliki timbangan.

Pada 2 April 999, ia diangkat menjadi Paus dengan gelar Silvester II. Beberapa karya pentingnya selama mempelajari Islam adalah kumpulan surat menyuratnya. Dan juga sebuah karya tentang filosofi matematika, dengan judul Gerberti Opera Mathematica yang sebagian besar ia kembangkan dari ilmu pengetahuan yang ia pelajari saat berada di Andalusia. Bahkan, Silvester II sepulang dari Andalusia ia mendirikan dua sekolah yang mempelajari tentang budaya Arab dan Islam di Roma dan Perancis.

Adelard of Bath (1080-1135)

Tokoh lain yang juga menjadi tonggak sejarah orientalisme adalah Adelard of Bath, yang mendapat julukan the First English Scientist, ilmuwan pertama yang dimiliki Inggris. Adelard of Bath adalah salah satu tokoh penting yang mengawali zaman terjemahan karya-karya ulama dan ilmuwan Islam ke adalam bahasa Latin. Dalam karyanya Natural Questions, Adelard punya satu tesis yang boleh jadi satu dari rentetan tertua ide sekulerisme. Ia meyakini, bahwa Tuhan seharusnya tidak masuk dan mencampuri, apalagi menjelaskan apa-apa yang boleh dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Dikenal dengan nama Athelhard, atau Adelardus Bathonienses atau Adelardus Bata dalam literatur Latin. Ia sangat terkenal, terutama dalam disiplin ilmu Matematika dan Astronomi dengan terjemahan-terjemahan yang ia lakukan atas literatur Islam.

Pada tahun 1109, ia melakukan perjalanan ke Sicilia, Italia dan juga ke Asia Kecil, termasuk ke Andalusia dan Afrika Utara yang dikenal sebagai wilayah kaum Muslimin. Pada tahun 1116, ia kembali ke Inggris dan memulai kerja besarnya, menuliskan Quaestiones Naturales atau Natural Questions, karyanya tentang ilmu pengetahuan alam yang juga ia sarikan dari beberapa manuskrip berbahasa Arab yang ia ambil dari wilayah-wilayah yang ia datangi di Andalusia dan Spanyol pada umumnya. Buku ini ia tulis dan didedikasikan untuk Richard, Bishop of Bayeux dan dicetak untuk pertama kali pada tahun 1480.

Buku al Khawarizmi tentang tabel astronomi ia terjemahkan ke dalam bahasa Latin. Ilmuwan Islam seperti al Khawarizmi yang memperkenalkan angka 0 pada dunia, juga diterjemahkan Adelard dan akhirnya digunakan dalam dunia perhitungan dunia Barat. Beberapa karya penting lainnya tentang astrologi karya ilmuwan Muslim Abu Ma’shar dengan judul Centiloquium Ptolomei Isagoge Minor. Jika hari ini dunia mengenal ramalan bintang, maka jasa Adelard Bath tidak boleh dipisahkan dari kemunculannya. Ia mempelajari letak dan posisi bintang lalu menghubungkannya dengan prediksi perbintangan.

Pierre le Venerable (1094-1156)

Tokoh berikutnya adalah Pierre le Venerable atau Pierre Maurice de Montboisier atau Petrus Venerabilis atau Peter yang Agung. Ia termasuk orientalis yang bekerja di bawah dan demi kepentingan gereja. Petrus Venerabilis adalah tokoh gereja Katholik Roma yang sangat brilian. Di usianya yang masih sangat muda, 17 tahun, ia telah diambil sumpahnya sebagai seorang pendeta di Sauxvillages, Perancis. Karirnya sebagai pemuka agama di Gereja Katholik Roma cukup cemerlang, hingga pada usianya ke 28 tahun ia telah diangkat sebagai Abbot Cluny atau Bapak Gereja.

Studinya pada Islam bermula pada lawatannya ke Toledo, Andalusia pada tahun 1141 sampai 1142, dengan biaya sendiri ia membentuk tim yang menerjemahkan cikal bakal al Qur’an edisi Latin yang dijadikan rujukan kerja-kerja misionaris selama berabad-abad. Tujuan orientalisme pada tahap ini adalah untuk membaptis pemikiran kaum Muslimin. Petrus Venerabilis meyakini, bahwa menghadapi kaum Muslimin perang yang dilakukan tidak saja menggunakan kekuatan militer dan persenjataan, tapi juga yang lebih penting adalah mengalahkan kaum Muslimin dalam pemikiran. Karenanya sumber-sumber yang boleh dijadikan pegangan kaum Muslimin, baik secara pemikiran, ideologi dan aksi, harus dimusnahkan, setidaknya dirusak dan dirancukan.

Petrus mengatakan, bahwa Islam adalah bentuk lain dari bid’ah-bid’ah berbahaya. Artinya, Islam adalah Kristen yang sesat. Ia menulis dua karya besar tentang Islam, Summa Totius Haeresis Saracenorum (Semua Bid’ah Tertinggi Orang-Orang Islam) dan Liber Contra Sectam Sive Haeresim Saracenorum (Buku Menentang Cara Hidup atau Bid’ah orang-orang Islam).

Ia menyusun daftar terjemahan al Qur’an yang diberi nama, perditi hominis originem uitam doctrinam legemque ipsam que Alchoran uocatur. Apa yang dimulai oleh Petrus Venerabilis adalah pekerjaan besar yang membuka gerbang serbuan pemikiran dalam tradisi intelektual umat Islam. Al Qur’an terjemahan Petrus adalah terjemahan pertama yang dibaca dan dijadikan rujukan oleh para intelektual Barat.

Gerard of Cremona (1114-1187)

Orientalis yang harus disebut namanya adalah Gerard dari Cremona. Archibishop Raimundo, memang berperan sangat besar dalam proyek-proyek penerjemahan ini. Dalam Catholic Ensiklopediae disebutkan, usaha-usaha penerjemahan ini memang dilakukan untuk memperkaya intelektualitas para Scholar of Latin Chistendom dalam mempersiapkan perang pemikiran.

Ibnu Abdun, seorang ulama yang hidup pada masa itu, memiliki kritikan tersendiri pada tradisi translasi yang dilakukan oleh para intelektual Kristen yang sangat dikenal sering melakukan plagiat. Selain itu, penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa Arab dan milik intelektual Islam dipersembahan untuk para pendeta atau gereja.

Salah satu karya yang diterjemahkan oleh Gerard of Cremona adalah Almagest. Almagest adalah terjemahan bahasa Latin dari al kitabu al mijisti atau Buku Besar, yang berisi tentang ilmu astronomi. Buku ini adalah ditulis oleh Ptolomeus dari Alexandria. Dalam Almagest ini seluruh ilmu astronomi dasar dituliskan, mulai dari gerakan kompleks bintang-bintang sampai planet dan lintasannya. Buku besar ini terdiri dari 13 buku.

Ketika menerjemahkan karya ini, Gerard di bantu oleh seorang Yahudi lokal bernama Galippus dan selesai setelah tahun 1175. Sebagian besar proses penerjemahan ini memanfaatkan tenaga-tenaga Yahudi yang mengetahui tiga bahasa; Ibrani, Arab dan juga Romawi. Baru kemudian, orang-orang Kristen menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin.

Karya ilmuwan Muslim yang diterjemahkan oleh Gerard Cremona adalah, kitab Ihsha’ al Ulum wa Tartibiha karya al Farabi. Karya al Farabi ini memiliki dua versi dalam bahasa Latin. Gerard of Cremona juga menerjemahkan karya dari Abu Bakar al Razi (w. 925) di bidang kedokteran, al thibb al manshuriah dengan judul Latin Liber Medicinalis ad Almansoren atau yang lebih populer Liber Almansorius. Semua penerjemahan ini dilakukan, dalam rangka mempelajari dan memboyong peradaban Islam, selanjutnya, melakukan hegemoni atas ilmu pengetahuan yang akan dijadikan senjata untuk memerangi umat Islam itu sendiri.

Dunia dan Perpecahan

Penyebab Kalahnya Umat Islam

Ada sebuah tempat di Spanyol yang diberi nama seperti judul tulisan ini, Puerto del Suspiro del Moro. Di telinga kalimat di atas terdengar indah mendayu, namun sesungguhnya, kisah yang terkandung dalam kalimat ini sungguh pilu. Puerto del Suspiro del Moro berarti Napas Terakhir Orang Moor atau terjemahan populernya berbunyi Tarikan Napas Terakhir Seorang Muslim.

Puerto del Suspiro del Moro adalah nama sebuah tempat. Tepatnya sebuah gunung. Tempat ketika rombongan Sultan Muhammad XII, khilafah terakhir kesultanan Granada berhenti dan melayangkan pandangan sedih ke arah Istana Alambra yang terpaksa ditinggalkannya karena Ratu Isabella dan Raja Ferdinand mengusir mereka. The last Sultan itu dipaksa mengangkat kakinya.

Sultan Abu Abdillah Muhammad, atau yang bergelar Sultan Muhammad XII berhenti, matanya menerawang, dari pelupuknya menetes air mata penyesalan. Selama 800 tahun Islam memerintah dan melayani Granada, kini dia menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kehancurannya. Ketika menangis di pucuk bukit, sang ibu menegurnya, “Kini kau menangis seperti perempuan. Padahal kau tak pernah memberikan perlawanan seperti seorang laki-laki.”

Kemudian rombongan ini menuju Maroko, tempat pembuangan keluarga Sultan. Karena itu, tempat rombongan ini terdiam, berdiri dan menatap untuk terakhir kalinya Istana Alhambra disebut Puerto del Suspiro del Moro yang berarti Tarikan Napas Terakhir Orang Muslim. Kisah ini pernah ditulis oleh Salman Rushdie dalam novelnya berjudul The Moors Last Sigh. Dan tentu saja, Salman Rushdie menulisnya dengan perspektif dan sudut pandangnya sendiri.

Tapi saya tidak ingin bercerita tentang novel Salman Rushdie yang diterbitkannya pada tahun 1995 itu dan mendapat beberapa penghargaan sebagai the Best Novel dalam Whitbread Prize tahun 1995. Dan tahun berikutnya, 1996, novel ini mendapat penghargaan dari Aristeion Prize. Meski tak memenangi, novel ini juga pernah dinominasikan dalam Man Booker Prize.

Saya ingin bercerita tentang secuplik kisah kecil kerjasama yang pernah terjalin antara Sultan Muhammad XII dengan Ratu Isabella dan juga Raja Ferdinand. Jauh sebelum singgasana itu goyah, jauh sebelum pengkhianatan itu tiba, mereka memiliki hubungan yang entah boleh disebut apa.

Puncaknya, 2 Januari 1492, Granada harus diserahkan oleh Sultan Muhammad XII kepada Ratu Isabella dan Raja Ferdinand yang telah menang setelah mengadu domba dua bersaudara. El Chico, begitu orang-orang Spanyol menyebut Sultan Muhammad XII, artinya yang kecil. Beberapa di antaranya, bahkan memberi gelar el zogoybi yang berarti dia yang kurang beruntung. Sebutan-sebutan itu adalah gambaran kecil untuk membangun kecemburuan sang sultan terhadap saudaranya, yang ternyata dipilih oleh sang ayah untuk menggantikan dan menduduki tahta.

Kekuasaan selalu menyimpan seribu misteri dan segala konspirasi. Tak ada yang lurus dan lempang di dalam bahasa politik. Lain yang disebut, lain pula yang direncanakan. Lain yang direncanakan, beda pula yang dijelaskan. Ratu Isabella dan Raja Ferdinand yang awalnya seolah berpihak dan akan membantu Sultan Muhammad II untuk meraih tahta, kini berbalik arah menggulingkannya. Dan segalanya, berawal dari rasa kepemilikaan atas sebuah klaim kekuasaan.

Dan ketika kesadaran itu datang, kejadian-kejadian sudah terlalu liar untuk dikendalikan. Pengkhianatan Isabella dan Ferdinand sudah terlalu dalam untuk dicarikan penawar, apalagi dikalahkan. Betapapun gigihnya pasukan pasukan Kesultanan Andalusia melakukan perlawanan, kekuasaan Islam yang sudah bertapak lebih dari 800 tahun berakhir dengan mengenaskan.

Dulu, ketika menyeberang Selat Gibraltar, pasukan yang dipimpin Tariq bin Ziyad masuk dengan gagah berani dan kepala yang tegak menantang. Di bakarnya kapal-kapal agar pasukan tak memikirkan cara untuk pulang. Kalah bukan pilihan. Maju terus dan meraih kemenangan. Tapi setelah 800 tahun Islam berkuasa di Andalusia, Sultan Muhammad XII harus menyeberangi Selat Gibraltar dengan kepala tertunduk dan dada yang ditikam-tikam kesedihan.

Kerajaan menjadi neraka sebelum neraka yang sesungguhnya. Saling berebut tahta menjadi agenda paling besar para pembesar. Dan hal ini dimanfaatkan dengan cerdik oleh musuh-musuh yang menghendaki khilafah Islam Andalusia bubar. Dan ketika pasukan Isabella dan Ferdinand datang menyerang, mengepung selama tujuh bulan, pembunuhan besar-besaran dilakukan, perlawanan hebat juga telah diberikan, tapi apa mau dikata, tubuh kepemimpinan umat sudah rapuh akibat saling seteru.

Dan ketika Islam dan kaum Muslimin dikalahkan, yang menjadi korban tak hanya manusia, tapi seluruh sisi peradaban. Seorang Kardinal memerintahkan pasukannya Spanyol mengumpulkan seluruh buku-buku tentang Islam dan semua yang berbau Arab untuk dibakar. Tidak saja yang terdapat dalam perpustakaan resmi milik pemerintahan, tapi juga milik pribadi yang tersebar di rumah-rumah. Jumlahnya diperkirakan lebih dari satu juta. Dikumpulkan di tengah lapangan kota Granada dan dimusnahkan dengan cara dibakar dengan diiringi upacara agama. Memusnahkan ilmu pengetahuan Islam, seperti menjadi bagian dari amal ibadah.

Seorang penyair Spanyol menuliskan puisi tentang detik-detik terakhir kepergian Sultan menuju tanah pengasingan:

tuvieron que abandonar muy a su pesar

los fastuosos salones y majestuosos jardines

de los palacios de la Alhambra

donde tanto goce terrenal habían disfrutado

durante varias bienaventuradas generaciones

raja harus pergi

meninggalkan dengan enggan

aula istana Alhambra yang megah dan taman-taman yang indah

di mana kenikmatan duniawi

telah diberkati berbilang generasi

Los débiles rayos del crepúsculo,

procedentes del sol poniente

tras el horizonte que forman las colinas de Loja

apenas permitían discernir

detalles del paraíso perdido

samar-sama senja sirna

dan matahari terbenam jua

cakrawala membentuk perbukitan Loja

raja hanya boleh menyaksikan

rincian surga yang mulai menghilang

(catatan: terjemahan bebas)

Entah berapa kali sejarah sudah berulang dan mengajarkan tentang candu kekuasaan dan bahaya keserakahan. Jika keduanya bertemu dan bersatu, keburukan besar tak hanya akan menimpa individu. Tapi gelombang panjang kerusakan, akan terjadi menimpa semua lini kehidupan. Mudah-mudahan kita mampu belajar dan tak mengulang sejarah keburukan

Menanam Benih Kesadaran

Saya belajar tentang menanam benih budi dari seorang bernama Ustadz Salamat Hashim. Beliau adalah pemimpin Moro Islamic Front Liberation, gerakan Islam yang memperjuangkan kemerdekaan bagi kaum Muslimin di wilayah Mindanao, Filipina Selatan. Beliau mengatakan kata-kata yang bagi saya sangat kuat pesannya:

“If this freedom cannot be achieved during my lifetime, I can assure you, and I can assure everybody, that I have already planted the seeds of Jihad. I have already planted the idea of fighting for freedom in the heart of my people, the Bangsamoro people.”

(Jika kemerdekaan ini tidak boleh dicapai semasa saya hidup, maka saya memastikan pada Anda, saya akan memastikan pada semua orang, bahwa saya telah menabur dan menanam benih Jihad. Saya telah menanam ide perjuangan kemederkaan di dalam hati semua orang. Di dalam hati kaum saya, Bangsamoro.)

Tak banyak pejuang yang boleh mengecap kemenangan dan hasil dari perjuangannya. Kalaupun ada, mungkin boleh dihitung dengan jari jumlahnya. Salah satu nama yang boleh kita sebut adalah Nelson Mandela, yang akhirnya boleh melihat langit cerah dan matahari keadilan di Afrika Selatan, setelah tahun-tahun pedih di bawah apartheid mereka rasakan. Sisanya, banyak sekali orang-orang seperti Ustadz Salamat Hashim yang meninggal karena serangan jantung setelah berjalan kaki empat hari menghindari serangan militer Filipina.

Hari itu, di sebuah tempat bernama Kamp Abu Bakar, Ustadz Salamat Hashim sedang menyampaikan Khutbah Idul Adha tahun 2000 silam.

Ketika serangan udara dari pesawat udara militer Filipina menghujani tempatnya dengan peluru-peluru besar yang mematikan. Setelah berjalan kaki berhari-hari, Ustadz Salamat Hashim sudah merasakan, ajal sudah mendekat dan nyaris tak berjarak. Beberapa usaha pengobatan sudah dilakukan, bahkan ada usaha untuk membawa Ustadz Salamat Hashim keluar dari Filipina untuk mendapatkan perawatan. Tapi beliau menolak.

“Biarlah saya mati di sini, di tanah yang saya cintai, dikeliling orang-orang yang saya kenali, yang dihatinya telah ditanam benih perjuangan.” Setelah menunjuk pemimpin yang akan melanjutkan perjuangan, Ustadz Salamat Hashim pun menghembuskan napas terakhirnya dalam pergolakan.

Menanam benih. Betapa sederhana sebetulnya hidup ini. Kemenangan hanyalah sebuah konsekuensi logis dari benih-benih yang tumbuh dan berkembang. Membesar dan memberikan hasil yang maksimal. Benih-benih mengakar jauh ke dalam tanah, mengokohkan pokok yang tinggi menjulang ke angkasa.

Siapakah mereka yang menanam benih hari ini? Masih adakah orang-orang yang bersungguh menyiangi benih-benih yang sudah di tabur, menjaganya dari serangan hama yang menganggu dan memberikan pupuk agar tumbuh subur?

Ini adalah tugas yang sebenarnya harus kita lakukan. Menabur dan menanam benih, menjaga dan menyirami, memupuk dan membesarkan. Tanpa harus menganggap ringan orientasi hasil akhir, kita harus bersungguh-sungguh dalam proses penanaman. Karena memang, tak ada yang pernah tahu, kapan musim panen tiba dan hasil boleh dituai dengan senyum gembira.

Jangan menjadi orang-orang yang ke bawah tak mengakar, ke atas dan berpucuk, dan di tengah-tengah di heret kumbang.

Menanam benih kesadaran. Itu tugas besar yang harus kita lakukan saat ini. Tak peduli berapa lama kemenangan dan kejayaan akan diraih, mungkin kita boleh menyaksikan, mungkin juga tak pernah. Tapi yang harus kita pastikan adalah, sudahkah kita menanam kesadaran pada orang-orang, agar perjuangan boleh diwariskan?

Advertisements
Dikirim dalam Minda Presiden

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Perhubungan TERAS

Bagi mendapatkan maklumat lebih lanjut mengenai TERAS Pengupayaan Melayu (TERAS), sila hubungi:

Salman Siddiqiy (019-4013782)
Cikgu Azmi (019-4744856)
Tarmizi (017-5606131)

KELAS BAHASA ARAB
(selangkah memahami al-Quran dan As-sunnah)
Di Kiosk Palestin, Sungai Petani
Hubungi : Ustaz Salman 019-4013782

laman utama
Jumlah Pengunjung
  • 323,883 hits
Kalendar
Februari 2011
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  
%d bloggers like this: